DI BALIK ILMU DAN PERUBAHAN Oleh: Ahmad Faiz Sugandi

“Kisahku ini mungkin tampak biasa, tetapi bacalah. Barangkali ada sesuatu yang bisa kamu temukan di dalamnya.”

Namaku Faiz. Aku merasa senang sekaligus menyesal menjalani jenjang pendidikan SMA. Semua itu bermula pada hari pertama aku memasuki sekolah baru, setelah hampir dua tahun berada di bangku SMP.

Hari itu, aku berdiri di depan gerbang sebuah sekolah bernama SMAN 1 Rhee. Suasananya sangat ramai dan bising. Dengan lingkungan yang benar-benar baru, aku melangkahkan kaki perlahan menuju kelas yang akan menjadi tempatku menimba ilmu. Kelas itu tidak terlalu jauh dari gerbang sekolah.

Beberapa langkah kemudian, aku memasuki ruangan bertuliskan Kelas 10. Suasananya membuatku gugup dan tidak nyaman. Semuanya terasa asing apalagi sebagian besar berisi orang-orang yang tidak ku kenal, ditambah aku yang memang memiliki masalah dalam bersosialisasi. Namun, karena tidak ada jalan kembali, aku memilih duduk di bangku bagian tengah agar tidak terlalu diperhatikan.

Aku hanya termenung di tempat duduk, menunggu guru datang, sembari berharap waktu cepat berlalu. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Ternyata dia adalah Gani, temanku sejak SD.

“Hey, Faiz, kamu kenapa termenung terus? Ngobrol dikit kek atau apa gitu,” ucap Gani dari bangku yang agak jauh.

“Ehh… nggak apa-apa. Aku cuma lagi mikirin sesuatu,” jawabku pelan.

“Oh, yaudah. Tapi jangan melamun terus, kasihan aku lihatnya,” balasnya dengan nada mengejek.

Ucapan Gani jujur membuatku semakin gugup. Aku benar-benar berharap hari itu cepat berakhir. Tak lama kemudian, guru pun datang dan kegiatan dimulai. Salah satu hal yang paling kubenci akhirnya terjadi: perkenalan diri.

Rasa gugup memenuhi kepalaku. Aku hampir tidak bisa berpikir jernih. Hingga akhirnya, namaku disebut. Aku memperkenalkan diri seperti yang lain, dan semuanya berjalan normal. Namun entah mengapa, dalam pikiranku aku merasa telah melakukan kesalahan besar.

Tanpa terasa, kegiatan demi kegiatan berlalu, hingga bel pulang berbunyi. Dalam hati, aku benar-benar bersyukur hari itu akhirnya berakhir.

Singkat cerita, aku sampai di rumah. Aku mengganti pakaian lalu makan dengan lauk yang telah disiapkan ibuku. Saat sedang makan, ayah datang menghampiriku dan memulai percakapan.

“Nak, gimana sekolahmu tadi? Nggak ada masalah, kan?” tanya ayah.

“Aman, Pah. Tadi aku kenal banyak teman baru,” jawabku sambil mengunyah.

“Oh, begitu? Kalau gitu sebutin beberapa,” lanjutnya dengan penasaran.

Mendengar itu, aku terdiam sejenak. Aku berpikir keras, tetapi nyatanya aku hanya mendengar nama teman-temanku saat perkenalan, dan sebagian besar sudah kulupakan. Akhirnya, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ehh… Pah, besok jemput aku sekolah agak sorean ya. Jam pulangnya lebih lama,” kataku cepat.

“Oh, oke. Nanti telepon aja ayah ya, Nak,” jawabnya.

“Siap, Pah. Faiz cuci tangan dulu,” ujarku sambil beranjak pergi.

Aku segera meninggalkan tempat itu sambil bergumam dalam hati, betapa beruntungnya aku. Setelah mencuci tangan dan minum air, aku masuk ke tempat yang paling membuatku tenang: kamarku, yang kuanggap sebagai istanaku sendiri.

Aku berbaring di tempat tidur, namun ketenangan tak kunjung datang. Pikiranku kembali pada kejadian di sekolah tadi—rasa gugup di hadapan banyak orang asing. Hal yang mungkin biasa bagi orang lain, tetapi terasa sangat sulit bagiku. Jangankan maju ke depan untuk berkenalan, berbicara dengan orang lain saja aku sering kesusahan.

Karena semakin lama berbaring justru membuat hatiku tidak tenang, aku bangkit dan meraih ponsel. Dalam hati aku bergumam, lebih baik aku mencari materi pelajaran SMA daripada melamun tanpa arah. Aku membuka ponsel dan mulai mencari berbagai materi di internet.

Namun, alih-alih fokus pada pelajaran, perhatianku justru tertuju pada kata-kata para tokoh yang entah mengapa terasa menjawab keraguanku selama ini.

> “Not everything that is faced can be changed, but nothing can be changed until it is faced.”

— James Baldwin

> “The measure of intelligence is the ability to change.”

— Albert Einstein

> “The secret of change is to focus all of your energy not on fighting the old, but on building the new.”

— Socrates

Semakin lama aku membaca kata-kata itu, semakin aku sadar betapa besar pengaruh keberanian untuk berubah dalam hidupku. Keraguan sempat muncul, tetapi akhirnya aku meyakinkan diri: mungkin ini saatnya aku berubah.

Beberapa jam berlalu. Waktu menunjukkan pukul enam sore. Aku bergegas beribadah, lalu membantu orang tua. Setelah itu, aku kembali ke kamar dan mempersiapkan diri untuk hari esok—hari yang kuharap akan mengubah hidupku. Aku berdiri di depan cermin, menatap diriku sendiri, dan meyakinkan hati bahwa aku tidak boleh terus seperti ini. Setelah itu, aku beristirahat.

Keesokan harinya, pagi terasa begitu cerah, seolah alam pun tahu bahwa sebuah perubahan akan terjadi. Aku dibonceng ayah menuju sekolah. Berbagai perasaan bercampur dalam diriku, tetapi pikiranku sudah teguh: aku tidak boleh hidup seperti ini selamanya.

Sesampainya di sekolah, aku turun dari motor, bersalaman dengan ayah, lalu berjalan melewati gerbang. Guru penjaga gerbang menyapaku, dan aku membalasnya. Sambutan sederhana itu kembali menambah semangatku.

Aku melangkah menuju kelas yang terdengar ramai. Begitu masuk, aku berniat menyapa mereka satu per satu. Namun, hal tak terduga justru terjadi: mereka menyapaku lebih dulu.

“Hey, kamu Faiz, kan? Namaku Candra,” sapa seseorang.

“Oh, hey. Iya, aku Faiz. Jadi namamu Candra,” jawabku.

“Oh ya, ini temanku, namanya Robby. Nih orang alim banget,” kata Candra sambil tertawa.

“Heh, kamu ini bercanda aja. Oh ya, kamu Faiz, kan? Aku Robby, pindahan dari pondok,” ujar Robby.

“Oh, salam kenal. Wah, anak pondok ya,” jawabku.

“Hey, Faiz!” panggil yang lain.

Perlahan, satu per satu orang mulai kukenal: Dias, Narayana, Arta, Robby, Dimas, Adil, dan masih banyak lagi. Aku berbincang dengan mereka tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat. Sesekali aku teringat betapa sulitnya aku berkomunikasi dulu. Namun sekarang, semuanya terasa begitu menyenangkan. Bahkan aku merasa tidak ingin berhenti berbicara.

Semua ini berkat ilmu yang kupelajari, tetapi lebih dari itu, semua ini terjadi karena aku berani mengambil langkah.

> “Terkadang ketakutanmu adalah hal yang akan mengubahmu suatu hari nanti.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *