“BERTAHAP”By Arta aka Aruuta

Ucapan Terima—kasih

Rasa syukur selalu kita panjatkan kepada— Tuhan— pencipta alam. karenanya kita bisa merasakan apa itu kehidupan dan kita bisa menjadi versi terbaik kita saat ini dikarenakan nikmat yang ia berikan serta bisa meningkatkan diri  menjadi lebih baik lagi.

Dan rasa terima kasih kepada seseorang yang saya sangat idola kan yakni —Nabi Muhammad SAW— yang telah menginspirasi saya selaku penulis untuk menjadi pribadi yang lebih baik hingga saat ini.

Tak—lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada sekolah SMAN 1 Rhee yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat menulis CERPEN saya yang berjudul “BERTAHAP” yang saya buat sesuai pengalaman saya dari awal —Kelas X hingga akhir— Kelas XII.

Manusia itu prosedural

Ia memerlukan yang disebut kegagalan

Gagal bukan berarti berhenti

Namun, itu adalah sebuah bukti

Bahwa kita belum layak

“Prosedural” berarti memerlukan yang namanya proses dan berjalan sesuai urutan.

~Tahun dan kegagalan pertama~

                Musim kemarau kala itu diiringi dengan angin yang berhembus kencang dan hujan yang tak menentu merupakan tanda dimulai nya ajaran baru. Arta yang masih ber usia 15 tahun di bangunkan oleh sang nenek pada pukul 05.12 dini hari dan ia di anjurkan untuk segera sholat subuh dan bersiap. saat itu aku ingat persis menu sarapan pagi hari adalah singang udang dengan kuah yang begitu nikmat, gurih, asin, dan sedikit pedas yang nampak nya di beri sedikit lada dan beberapa cabai merah untuk menambah cita rasa pedasnya, betapa menggugah selera masakan ibu ku kala itu.

“Singang”—Adalah masakan khas Sumbawa, Masakan tersebut terbuat dari ikan, udang, dan ada beberapa versi—serta dibumbui dengan kunyit untuk menciptakan warna kuning.

Setelah sarapan, aku melanjutkan kegiatan seperti mandi dan berpakaian rapi, dikarenakan hari itu adalah MPLS maka anak-anak baru diberitahu agar menggunakan pakaian olahraga dari SMP masing-masing dan tentunya aku menaati aturan itu.tibalah waktu untuk berangkat sekolah untuk mengikuti MPLS. berangkat sekolah diawali dengan salim dan salam, dan tentunya tidak sendirian, saat itu aku berangkat sekolah bersama “Riski” sebut saja “Iky”, teman ku sejak kecil dan smp—serta kali ini bertemu lagi di sekolah yang sama sebagai pelajar SMA.

Setibanya di sekolah yang terasa asing dan jujur aku tidak nyaman dengan suasana baru itu. karena kami berangkat tergolong terlalu pagi, kami perlu menunggu kedatangan para panitia dan peserta lainnya.setelah waktunya tiba kami di suruh untuk mendaftar sebagai murid yang ingin membeli seragam sekolah dan beberapa peralatan lainnya. setelah itu kami pun di arahkan ke lapangan oleh kakak-kakak yang terlihat sangat bersemangat menyambut kami sebagai bagian dari mereka.dalam rasa gugup aku berkumpul bersama teman teman ku semasa SMP dan ada beberapa sahabat ku yang lainnya disana seperti dias,reza, adil, gani dan beberapa teman lainnya dan dimulailah pembagian gugus, mungkin keberuntungan tak memihak ku dan aku pun di pilih untuk menjadi anggota gugus 3 dan sialnya semua sahabatku masuk sebagai anggota gugus 1 dan disitulah awal dimana aku keluar dari zona nyaman ku.

MPLS berjalan selayaknya MPLS pada umumnya dimana kita di suruh menebak jajan dan anehnya diberikan kepada kakak kelas itu,saat itu aku pun heran dan kami disuruh seperti ber yel yel dan berkeliling sekolah dan akhirnya masa MPLS pun selesai. entah bagaimana aku bisa sial lagi ternyata pemilihan kelas ditetapkan berdasarkan gugus yang kemarin jadi semua sahabat ku kini berbeda kelas dengan ku dan berada di X-1 dan aku di X-3

rasa sedih,tak nyaman dan cemas menyelimuti diriku yang tak memiliki keberanian saat itu, takut akan perundungan dikarenakan badan ku yang pendek dan kecil serta kurus.disaat itulah kegagalan pertama yang kurasakan dalam hidupku yaitu menjalani masa sekolah dengan penuh rasa insecure dan tak percaya diri serta penuh tekanan.

“Kau memang tak mampu melihat di dalam kegelapan,namun—jika kau memulai— secerca cahaya mungkin tak terlihat mustahil”

Untung nya kenyataan tak sesuai dengan yang aku pikirkan saat itu.ternyata aku hanya kurang memiliki keberanian untuk memulai lembaran baru dikarenakan rasa shock berat akibat keluar dari zona nyaman.teman teman di kelas X-3 tidak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya mereka baik, lucu dan humble—haha, kelas X-3 terkenal dengan murid yang cukup susah diatur hingga beberapa wali kelas menyerah dan memutuskan untuk bergantian menjadi wali kelas kami hingga 3 kali. lucu sekali bukan? dan aku tentunya memiliki teman baru bernama “Agus” dia awalnya terlihat pendiam sama seperti ku namun aku salah, dia jauh lebih aktif dari yang aku bayangkan dan dia menjadi ketua kelas saat itu dan itulah mengapa kita tidak boleh menilai orang berdasarkan pengelihatan kita sendiri.

Manusia itu naif dan apa adanya

Yang terlihat bersandar pada visual dan realita

Hingga tak memiliki hati dan hanya tersisa tawa

Apakah mereka pernah bercermin dan melihat?

Tunggulah aku, yang akan terus memanjat

Dan ingat tuan,semuanya pasti akan terlihat

~Tahun dan kegagalan kedua~

                Tahun kedua dimulai seperti biasanya angin tetap berhembus kencang dan menandakan tahun ajaran baru dimulai.bedanya hanya pada sesuatu yang tak baru karena aku kini sudah berada di kelas XI yang terasa baru hanyalah keputusan pemerintah saat itu mengenai ketetapan kurikulum Merdeka dan pembagian kelas sesuai minat dan tujuan.kala itu aku dengan senang hati memilih kelas XI-NAKES karena kupikir kelas itu adalah kelas ternyaman untuk belajar karena sepertinya sedikit yang memilih kelas itu.pada saat itu aku terkejut, karena jumlah laki-laki di kelas itu tergolong sedikit yang hanya berisi 7-8 orang dan beberapa ada yang dipaksa pindah untuk memenuhi syarat terbentuk nya suatu kelas.

Oh iya, aku lupa menjelaskan Kelas di tahun itu terbagi menjadi 3 Kelas Yakni:~~

“SOSIAL BUDAYA” yang cenderung pada peminatan ekonomi dan kemasyarakatan.

“ARSITEK” yang cenderung pada peminatan Geografi dan Fisika.

dan “NAKES” yakni “tenaga kesehatan” yang cenderung pada peminatan Biologi dan kimia.

Kala  itu aku begitu polos dan langsung memilih nakes karena kondisi belajar yang mungkin kurasa kondusif dan sedikit anak-anak nakal dan itu benar. namun aku tak melihat untuk jangka waktu kedepannya ternyata aku saat itu tak memiliki arah dan hanya ingin ketenangan karena di X-3 rasanya aku kurang nyaman walaupun lulus di peringkat pertama.bukan berarti aku benci X-3, aku hanya ingin ketenangan saat itu dan menurutku X-3 cukup asik walaupun “~adalah pokoknya~haha”.di kelas nakes ternyata hidupku berubah semenjak mendapatkan 4 sahabat baru pada awalnya dan kelak menjadi 5. kami yang semuanya laki-laki malah mendominasi kelas itu dan menduduki 5 besar bersama dan kami menyebut kelompok kami yaitu “Block D” beranggotakan aku, Dias, Nara, Faiz, dan Robby.

Kami terus mendominasi dan beberapa dari kami memutuskan ikut organisasi intera sekolah “osis” bersama sahabat SMP ku juga yaitu gani dan ternyata anggota block D bernama dias sudah menjadi wakil ketua osis kala itu walaupun dia sering nganggur sih.karena kondisi osis yang kurang nyaman dan melelahkan kami semua memutuskan meninggalkan osis  pada saat itu dan hanya tersisa dias karena dia sudah terlanjur menjadi wakil.dan hidup kami berjalan seperti murid normal tanpa organisasi serta tugas tugasnya.

 Pada  sekitaran bulan agustus hingga september, kelas kami kedatangan murid baru bernama “Dimas” ia memiliki postur badan sedikit lebih tinggi dari ku dan berkacamata. dan disinilah hidupku berubah 180 derajat. awalnya “Dimas” murid yang cukup pendiam. namun ternyata dia adalah teman sd dari anggota block D yakni “Nara” setelah dimas perkenalan dan menjelaskan dia berasal dari pondok di Mataram, dia pun selesai dan duduk di bangku belakang ku kami pun mengajak Dimas mengobrol dan tidak butuh waktu lama ia langsung akrab dengan kami.

Karena dimas adalah murid yang cukup aktif  dan sering mengajari kami tentang agama islam walaupun ada anggota Block D yang non muslim ternyata penjelasan dimas tentang kehidupan tetap relate atau cocok dengan kami dan akhirnya aku pun termotivasi untuk merubah hidup mulai dari belajar nada Baca Al-Qur’an dan memulai mencoba berceramah serta melatih Public speaking ku dengan program sekolah yakni “Safari Ramadhan”. dan aku pun mulai mengatur pola makan dan kebiasaan berolahraga serta merubah badanku yang dulu sangat kubenci karena pendek dan kurus ini menjadi lebih baik.

“Safari Ramadhan”—adalah program sekolah yang ditujukan untuk meningkatkan skill berceramah serta Public Speaking peserta didik agar terbiasa ketika berada di Masyarakat kelak.

Manusia itu makhluk yang bernafsu

Tak pernah terlepas dari lapar dan dahaga

Tuhan, Apakah aku mampu? —

Bergerak ke atas menuju ketinggian akalku

Itu hanya kiasan visual dari imajinasi ku

Yang perlu kata mulai untuk melihatnya

Atau perlu kata terbiasa agar mengenalnya?

Agar aku tak mengulang kembali penyesalan ku

~Tahun dan kegagalan ketiga~

                Tahun ketiga dimulai tentunya dengan kebiasaan yang sama tapi kali ini aku tinggal melanjutkan apa yang telah ku mulai.aku mulai sering berolahraga,berceramah di mushola dan adzan di masjid kampung. Semua  itu berkat motivasi yang dimas berikan, waktu itu dia berkata kepadaku saat aku bertanya sesuatu: Kami duduk bersender di dinding belakang kelas, walaupun terasa sedikit canggung karena aku baru saja mengenal dimas beberapa bulan yang lalu, aku pun mulai bertanya.

“Dim, kok aku orang nya kurus banget ya? , pendek, dan perasaan ga pernah meningkat sama sekali”—sebuah pertanyaan yang selama ini ada di lubuk hati ku yang paling dalam, gelap,tanpa cahaya sama sekali.

Dimas menarik nafas dalam dan membuangnya dan aku tak percaya seorang “Dimas” bisa berbicara seperti itu.

“Ta, sebenarnya kamu gaperlu jadi seperti yang orang lain inginkan. kamu perlu menjadi diri kamu sendiri, dan memulai apa yang menurut kamu perlu untuk di perbaiki”—sialan! dia terdengar keren kala itu, bak seorang ayah yang sedang mengutarakan nasehat pada anaknya.

Selesai  ia berbicara hatiku tersentuh, kegelapan yang selama ini menyelimuti hatiku kini perlahan menghilang dan mulai bercahaya bagai kunang-kunang di kegelapan malam.  Kata itulah yang selalu ku ingat sampai saat ini.dan disitulah aku merasa gagal selama ini karena tidak memulai nya dari awal sekolah karena aku hanya fokus pada tekanan nilai dan pendapat orang lain—yang ternyata tidak perlu—di beri perhatian. dan tahun ini aku merasa berapi api bak arang yang di bakar kembali aku pun ikut ekstra kulikuler english debate  bersama “Dias” dan “Nara” kami pun ikut lomba english debate di Sumbawa namun sayang sekali menempati posisi terakhir walaupun ada sekolah lain di bawahku tapi disitulah aku merasa gagal karena minim nya persiapan. tapi kegagalan ya tetap kegagalan walaupun kau sesali itu tidak akan bisa terulang kembali dan yang harus kamu lakukan yaitu memperbaiki. tapi yang membuat ku sedih adalah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki karena sekarang aku dan teman-temanku sudah kelas XII.

Karena kekalahan sebelumnya aku pun merasa terpukul walaupun minim persiapan tapi usaha kami juga tetap ada. dan itu membuat ku lebih semangat memperbaiki diri. dan melanjutkan kebiasaan yang telah ku mulai sebelumnya. aku tetap berceramah, adzan dan sering kali bertugas dan menikmati masa tahun terakhir ku di SMAN 1 Rhee ini.dan itu bukan tanpa alasan aku pun menemukan informasi dari influencer bernama “Ferry Irwandi” mengenai pahlawan revolusi bernama Datuk “Tan Malaka” dan perkataan beliau banyak memotivasi ku untuk melanjutkan hidup. Quotes beliau yang paling ku ingat yaitu:

“Terbentur, Terbentur, Terbentur dan Terbentuk”

—Tan Malaka—

Kata—kata itu sangat bermakna bagiku karena hal yang kita nikmati sekarang terbentuk dari sebuah kegagalan yang terus terulang lagi dan lagi dan tentunya kita berniat untuk mempelajari dan memperbaiki nya.

Maka pesan ku kepada pembaca CERPEN ini yaitu:

“Jangan takut gagal walaupun itu merusak jiwa mu, karena itu adalah guru sejati, apabila kamu bisa melihat kesalahan dan memperbaiki nya”

Aku tau jika hidupku terlihat membosankan di mata kalian dan kalau kalian bisa mengambil sedikit pelajaran aku akan bersyukur untuk itu.

Manusia itu rapuh dan penuh celah

Yang tak bisa merasa dan melihat

Yang tak bisa memperbaiki dan merubah

Karena Kesalahan adalah arus berulang

Bisa jadi pasang dan surut

Namun kelak itu menjadi kunci

Untuk kita yang tak memiliki arah

Jika mencari tangga untuk naik lebih tinggi

Naik lah engkau Naik

Kau akan menemukan secerca cahaya di sana

Harapan ku kepada pembaca dan tujuan ku pada adik adik kelas sekalian, aku membuat cerpen ini agar kalian tidak mengulangi segala kesalahan yang ku lakukan sebelumnya.

“Tentukan arahmu mulailah sedini mungkin,temukan teman yang dapat mengerti tertang dirimu, daripada kelak menjadi hal yang kamu sesali di akhir masa mu”

Mulailah memperbaiki diri dari awal kalian masuk sekolah dan saya saran kan di kelas X dan XI kalian sudah tau ingin melanjutkan karir kalian kemana kedepannya, kejarlah keinginan mu dan jangan berhenti untuk itu sebelum hal itu terasa mustahil, sebenarnya tak ada yang mustahil di dunia ini selama kita berusaha.dan Tuhan sudah tau mana yang menjadi batasan kita. perbaiki mental,keberanian, kebiasaan dan jangan takut pada kegagalan dan percaya pada proses.

hal ini bukan hanya untuk adik-adikku,tapi untuk para pejuang diluar sana yang ingin mengubah hidupnya.

Satu Kata dari saya selaku Penulis CERPEN “BERTAHAP”

untuk kalian para pembaca:

“Mulai—lah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *