Karya: HARYANTY
Minggu pagi, awal bulan November. Pagi seperti biasa, melihat Ayah dan Ibu berbincang. Aku yang sibuk menyiapkan sarapan pagi itu, menu yang diminta Ayah pada hari sebelumnya. Nasi goreng dengan bumbu instan. Karena, tiga hari berturut-turut Ayah memasakkan kami nasi goreng kampung. “Besok, tinggal kamu yang masak ya, tapi pakai bumbu instan”. Aku hanya tersenyum. Pagi itu, aku memasaknya, membawanya ke ruang tamu. Senyum Ayah sangat manis pagi itu, menyambut nasi goreng yang ku bawa. Sambil berseloroh. “Wah, kita seperti makan di restoran” katanya. Aku tak kalah menggodanya pagi itu, “Habis makan, tinggal garuk-garuk”. Aku melihat Ayah tersenyum menanggapi kataku. Karena aku tahu, Ayah sedang gatal-gatal karena memang tidak bisa makan telur. Seperti biasa, Ayah selalu mengabaikan sakitnya karena dia tahu harus minum apa jka penyakitnya kambuh.
Setelah sarapan, aku memilih melanjutkan mencuci baju. Sementara Ayah, duduk di depan rumah tetangga sambil menunggu orang pulang melaut untuk membeli ikan, karena rencananya dia mau masak sepat. Makanan khas Sumbawa. Tidak lama kemudian, Ayah naik ke rumah dan menunjukkan ikan yang dia beli dan menyuruhku ke pasar untuk membeli bahan. Aku tidak tahu aktivitas apa yang dia lakukan dengan ibu di luar karena aku sibuk untuk menyelesaikan cucian.
Aku melihat Ayah sibuk dengan ikan nya. Aku melihatnya menjemur ikan yang dia beli tadi. Sementara aku menyiapkan air untuk mandi ibu. Aku turun untuk menjemur, sementara ibu bersiap untuk masuk mandi. Kondisi ibu yang sedang sakit stroke membuat Ibu sedikit kesusahan karena ibu tidak bisa berjalan jadi ibu hanya bisa menggeser badannya secara perlahan. Aku yang melintas di ruang tamu, mendapati Ayah yang mengeluh sakit pada dadanya, dia memintaku untuk mengambil air minum, tanpa ada rasa khawatir atau pun pertanda yang buruk. Setelah memberikan minum dan aku melihat Ayah menggeser badannya ke dinding. Aku pikir Ayah sedang mencari posisi nyamannya. Jadi, aku memilih meninggalkannya dan melihat ibu yang sedang mandi.
Aku melangkah ke dapur, anehnya aku mendengar suara yang begitu keras di telingaku. Aku bergegas keluar dan bertanya kepada Ibu tentang suara itu, Ibu tidak mendengar apa-apa. Aku melihat Ayah yang terpejam hatiku mulai tidak karuan, namun aku masih melihat dada nya bergerak. Sekali aku membuang muka. Tiba-tiba gerakan dada itu berhenti, aku tersungkur di hadapannya sambil memanggil namnya pelan. Tidak ada jawaban, aku periksa aliran nafas di hidungnya, tidak ada angin yang menembus jari tanganku, dengan nada yang gemetar aku menhampiri ibu “Mak, kenapa Uak tidak bergerak” tangis ku pecah. Aku segera menyuruh ibu untuk memakai pakaian. Aku berlari memanggil tetangga meminta mereka melihat Ayah yang duduk tak bergerak
Ketika tetangga datang, mereka mencoba menenangkan bahwa Ayah baik-baik saja. Aku mencoba menghubungi kakak ku saat itu belum ada balasan. Sementara Ayah sudah digotong ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Aku menyiapkan semua keperluan Ayah dan menyusul ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Ayah ditangani dengan cepat. Kami keluarga menunggu di luar setelah hampir satu jam, kami dipersilahkan masuk ke dalam.
Aku melihat tubuh itu, beberapa kali alat kejut jantung defibrillator itu menghempas tubuhnya, aku melihat alat-alat itu satu-satu di lepas dari tubuhnya, dan salah satu dari mereka mendekat dan membisikkan ku kata yang luar biasa menyakitkan “Kak, Bapak Sudah tidak ada” Ya Allah, langit itu runtuh menimpa tubuh ku, awan hitam memenuhi hatiku. Tangisku pecah dalam lorong IGD tersebut aku meninggalkan tubuh yang kaku itu sendiri di sana.
Dengan tangan dan tubuh gemetar, aku mengabari keluargaku satu persatu. Kecuali kakak ku. Karena terakhir dia mengabariku masih di jalan untuk beristirahat karena kondisinya pun kurang sehat. Aku mengurus semua administrasi kepulangan Ayah ke rumah. Pikiranku melayang ke rumah, bagaimana keadaan Ibu bagaimana kabar itu dia terima. Cinta sejatinya pergi begitu mendadak, tidak ada satu orangp pun di dunia ini yang siap kehilangan. Aku menemani jasad Ayah di dalam ambulance, sambir berbisik kata maaf betapa aku sangaat merepotkannya selama dia hidup dengan harapan Ayah bangun dan bercerita bagaimana rasa sakitnya saat itu. Seperti kebiasaan kami setiap hari. Tidak ada satu cerita terlewatkan, aku selalu bercerita tentang pekerjaanku dan Ayah selalu bercerita bagaimana kelakuan Ibu selama di rumah.
Ambulance berhenti, gemuruh tangis pecah. Aku berlari menuju Ibu dan menenangkannya. Aku terdiam sambil mengelus tubuh Ayah ku. Beraharap ini hanya mimpi. Kakak ku yang datang dengan tangis dan amarah dengan tenang mengusap wajah Ayahku. Aku hanya memperhatikan Ibu, melihatnya yang kesusahan bergeser menuju jasad suaminya. Hari itu Ayah langsung dimakamkan. Tangisku pecah di pemakaman. Gerimis turun membasahi pusara. Bau tanah ini, aroma duka yang menyelimuti luka. Ku peluk batu nisan ketika orang-orang beranjak pergi.
Aku melewati sarapan terakhir dengan menu yang dia pilih dan aku masakkan, dan aku teringat dia pernah berkata pada seseorang. Dia bangga memiliki anak perempuan, walaupun kita tidak bisa merasakan hasil kerjanya (uang) jita bisa merasakan hasil tanggannya (masakannya).
Tidak ada kata sembuh bagi orang yang kehilangan. Tepat tiga tahun kepergian Ayah, aku banyak belajar tentang tanggung jawab. Terima kasih Uak, tidak ada hari tanpa tangisan di kamar ini, di ruang tamu tempat kita sering bercerita, tempat aku sering memandang tubuhmu yang terlelap, tempat aku dan ibu menunggu suara langkah kaki mu pulang dan salam khas yang kau ucapkan. Setelah kepergianmu, orang bercerita, yang mereka ingat kau selalu tersenyum. Sampai bertemu kembali di surga Allah.